Diperbatasan hati kutemui bimbang memeluk diri. Tak sepatah katapun terungkap, hanya diam dan mendekap. Lambat
laun terbisikkan kata tuk pergi menghindari. Menjauh dari sosok yang
telah membuatku jatuh hati. Bukan karena tersisip asa benci, namun hati
sadari tak mungkin memiliki seutuh janji.
Sejak
awal asa dan logika telah menduga, pada akhirnya kan tersakiti hati dua laki-laki . Hatiku yang tak ingin kau terus bersamanya dan hati kekasihmu
jika tahu yang sebenarnya. Ingin kulangkahkan kaki beranjak dari padang
hati, ingin rasanya aku berlari, namun kakiku terjerat, tertahan oleh
asa yang mementalkan logika. Tak jarang pula kau ucapkan kata pusaka,
merantai jiwa yang meronta ditenggelamkan cinta.
Aku
hadir antara kau dan dia, tak selayaknya aku berada disana. Aku adalah
nyata saat dia tak disisi, namun aku hanyalah bayang nestapa saat dia
menyapa. Adakah alasan bagiku untuk tetap bertahan diantara serpihan
pendustaan. Menjadi alasan pengkhianatan atau sekedar objek cinta dalam
sebuah permainan. Aku lelah menjadi sisipan. I just wanna be the one and
the only one.
Sadarkah???
aku mendidih dalam perih, sendu diburu cemburu. Terjebak dalam
labirin-labirin yang kokoh menghadangku dalam rumitnya alur kisah yang
salah. Terbuai dalam roncean prosa cinta dan puja dari wanita yang
kudamba. Tak peduli sikap dan untaian kata yang kau ungkap nyatakah atau
sekedar retorika. Entahkah kau benar cinta atau aku hanyalah selingan
semata.
Akulah
orang ketiga, satu sisi hatiku tak ingin merenggut cinta dari laki-laki
lainnya namun sisi hati yang lain berkata “JADIKANLAH AKU SATU-SATUNYA”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar